Read more at http://lenterablogger.blogspot.com/2012/04/cara-buat-auto-read-more.html#OizWlWkw9VXUsQtA.99

Jumat, 24 Agustus 2012

Emak dan Anak


JANGAN TERTAWA SEBELUM MEMBACA, kaya kata-kata di film workop DKI aja kalo yang suka nonton pasti tau? tapi kalo nontonnya cuma liat cewenya aja yah di jawab sendiri aja hehehehe.....

Ehmmm mau cerita nich cuy, mas bro, sist, sob,. maklum baru jadi anak gaol getoh gimana getoh ngomongnya lindahnya nyangkut. 

Gini ceritanya titik dua.

Di baca yah?  kalo ga di baca, ga cerita nich hehehe ngancem, gini nich ceritanya serius ini mah cerita. 
Pada pagi hari di sebuah kota. maaf  nich di potong ceritanya?? ceritanya tentang emak dan anaknya yah hehehe. Pada pagi hari lagi nich urusannya, anaknya si emak namanya" tole". Aduh namanya jelek amat ganti aja ah" si dimas kota banget tuh kan hehehe,. kalo ga salah pukul 05.30 si dimas terbangun dari tidurnya yang nyenyak karna kecapean semalam?? WOW abis apa tuh dimas, ehhmm kasi tau ga yah?? hehehe. 

Mesti cuy, mas bro, sist, sob bingung tuh ko ceritanya langsung pagi hari abis bangun tidur jadinya agak gak nyambung?? Sebenenya sich saya mau nulisin ceritanya.... cuman saya bingung mau nulis apa soalnya saya ga tau ceritanya hehehehehe. 

Lanjut..tau gak dimas terbangun kenapa?? mesti ga atau kan... dimas terbangun karna mendengar suara hp nya yang di taroh di bawah batalanya. Ehh ternyata Emaknya sms tuh... padahal satu rumah ngomong aja lewat sms, akibat makin canggihnya zaman tekhnologi sekarang,. Gaol juga yah Emaknya bisa mencet-mencet sms hehehe. 

Nah disini ceritanya yang paling seru....
Lanjut". Tau gak emaknya sms apa ke dimas (dah shalat subuh belum, bangun udh siang, kalo habis campur mandi junup dulu) wkwkwkwkwkwkwkwkwkwk ketawa saya denger ceritanya sampe perut sakit, air mata bercucuran, lebay berlebihan.. sebenernya saya mau cerita tentang smsnya aja hehehehehehehe..... pissssss damai 123 kaburrrrrrrr....
Baca Selengkapnya

Kamis, 23 Agustus 2012

Kisah Nyata Cinta Sejati B.J Habibie – Alm Ainun Habibie



Berawal setelah pulang kantor kemarin malam, niat hati mau mengerjakan tugas-tugas kantor sesampainya saya di rumah. Ternyata isi otak tidak sinkron dengan kebutuhan hati saya untuk memuaskan diri dengan program televisi yang saat itu sedang menayangkan “MATA NAJWA”. Saya tinggalkan notebook penuh dengan rangkaian executive summary dan grafik.

Kali ini, program televisi tersebut membahas tentang kisah cinta antara mantan presiden B.J. Habibie dan ibu Ainun Habibie dengan topik *separuh jiwaku pergi*. Dimulai dengan percakapan mengenai masa-masa pasca B.J. Habibie ditinggal oleh sang almarhumah (baru adegan ini, saya sudah meneteskan air mata huahh)

Dalam 48 tahun 10 hari kami bersama,tak pernah kami berpisah..
Saya tidak pernah menyangka ada perasaan yang sehebat ini„,tapi sekaligus perih juga…
Saya tidak pernah bayangkan akan kehilangan seperti ini…

Tapi saya yakin„walaupun separuh jiwa saya serasa pergi„
tapi Ibu tetap tinggal di dalam ini (sambil menepuk dada)

Setiap saya memejamkan mata„
saya merasa bisa melihat Ibu di setiap ruangan ini..”

Kata kata selanjutnya yang beliau lontarkan diucapkan sedemikian rupa agar beliau bisa tegar tanpa separuh jiwanya..

“Aku ingat lekat sepasang mata dan senyumannya,
kini aku merasakan bayang matanya menghilang perlahan – lahan.

Itu masalahku, dan harus kuatasi itu.
ibu memang sudah pergi, tapi dia tidak pernah pergi dari hati saya”

“jika kamu punya rencana masa depan,
saya tidak punya hak untuk tidak menjunjung tinggi rencana dan harapan masa depan kamu itu.”

(emmm…agree with him..love is supporting each other to achieve more)

Pertemuan mereka diawali dari masa kecil mereka saat menduduki bangku SMA, mereka adalah dua bintang kelas yang sangat populer di sekolah. Akan tetapi, saat itu bu Ainun adalah jagoan sekolah yang terkenal agak tomboy sedangkan pak Habibie (atau Roy, panggilan masa kecil beliau) adalah sosok yangterkenal jago bidang saintis sedari duduk di bangku sekolah. Guru mereka dahulu sering menjodohkan mereka berdua, akibat prestasinya yang tinggi di sekolah. Tapi hal ini hanya dianggap lintas lalu oleh Roy.

Bu Ainun sedari dulu memang primadona sekolah akan tetapi, hal tersebut tidak menggetarkan hati Habibie remaja untuk mendekatiya. Sepulang dari luar negeri untuk menempuh pendidikan, pak Habibie baru muali menyadari pesona bu Ainun, saat bermain ke rumah temannya yang kebetulan adalah kakak dari bu Ainun.

Beliau tiba-tiba melihat Ainun sedang memakai pakaian kasual kaos dengan celana jins, hal ini membuat Habibie terperangah dan beliau berkata

“Ainun, mana mungkin gula merah menjadi gula pasir?”

(Hal ini memperlihatkan tercengangnya beliau melihat Ainun yang telah menjadi gadis remaja dewasa yang cantik).
kisah ini berlanjut hingga akhirnya mereka dipertemukan menjadi satu di pelaminan. Kata-kata yang saya ingat dari pak Habibie adalah

Trimakasih ya Allah Engkau lahirkan aku untuk Ainun,dan Ainun untuk saya.
Trimakasih ya Allah Engkau pertemukan aku dengan Ainun,dan Ainun dengan saya….

Sepanjang episode ini saya benar- benar menitikkan air mata. Ternyata ada juga kisah cinta antara manusia yang dilandasi rasa cinta murni seperti kisah pak Habibie dan bu Ainun.

Akhir dari posting saya kali ini saya akan menampilkan puisi dari pak Habibie saat melepas kepergian jenazah bu Ainun….

Surat terakhir B.J.Habibie untuk Alm. Ainun Habibie …..

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,
sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,
hatiku seperti tak di tempatnya,
dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang,
rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,
tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia,
kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
selamat jalan, calon bidadari surgaku ….

BJ.HABIBIE
Baca Selengkapnya

Tips mudah cara menghilangkan obeng dari tampilan blog


Cara mudah untuk menghilangkan gambar obeng atau tang dari blog.
Ikutin petunjuk di bawah ini:
1. Log in, Dasbor, terus klik Rancangan untuk yang pake dasbor classic.

2.  Terus klik EDIT HTML.
2. Coba cari code html kayak gini ]]></b:skin biar gampang nemuinnya tekan 'Ctrl+F'.
3. Kalo sudah nemuin code
]]></b:skin 
4. Lanjut,
copy code html yang dibawah ini, tepat diatas code ]]></b:skin
 .quickedit{
display:none;
}

4. Kalo sudah, coba Simpan Template. Selesai
5. Contoh Tata letak yang benar di bawah ini:
.quickedit{
display:none;
}
]]></b:skin
Selamat mencoba, Sekian dulu tutorial kecilnya ,, semoga bermanfaat ,, dan ... kutunggu komentarnya ya ..
Baca Selengkapnya

Kewajiban Seorang Suami


Suami adalah seorang lelaki sekaligus kepala keluarga. Berbicara tentang keluarga paling tidak sebuah keluarga terdiri dari seorang kepala keluarga yakni seorang suami dan seorang isteri. Bisa jadi sebuah keluarga ditambah dengan beberapa orang anak. Inilah yang masyhur dalam benak setiap orang ketika dia mendengar kata ‘keluarga’ disebutkan orang kepadanya. Dengan demikian, tertanamlah dalam benak setiap orang bahwa keluarga adalah suami, isteri, dan anak. Demikianlah lazimnya selama ini.

Kewajiban seorang suami dalam Islam adalah sebagai berikut; 1. Mengurus ibu, 2. Mengurus bapak, 3. Mengurus Isteri dan anak, 4. Mengurus kerabat. 

Jelas sekali, seorang laki-laki yang telah menjadi seorang suami lebih wajib menyelesaikan urusan keperluan sang ibu baru lelaki itu berkewajiban menyelesaikan urusan sang isteri. Tentu saja tidak berarti karena mengurus sang ibu, lelaki itu lantas menyia-nyiakan isterinya. Masing-masing memiliki hak yang wajib ditunaikan secara ma’ruf (baik).

Karena ketidaktahuan kaum muslimin atas ajaran Islam, kadang-kadang seorang isteri merasa kedua mertuanya (orangtua sang suami) adalah saingannya dalam memperebutkan pelayanan dan harta serta kasih sayang dari sang suami. Kemudian karena ketamakan yang tumbuh di hati sang isteri tersebut, dia akan meradang jika kedua mertuanya bertindak sedikit saja mengambil harta suaminya. Seolah-olah kedua mertuanya ‘merampas’ sesuatu yang semestinya menjadi bagian dan miliknya sendiri. Padahal jika sekedar makan dan pakaian tidaklah perlu menjadi perhitungan bagi sang isteri itu.

Dan jika suami-isteri telah menyadari bahwa menyantuni orangtua, merawat serta menafkahi mereka adalah kewajiban dari Allah dan sekaligus tiket masuk surga, manalah mungkin keduanya sampai hati ‘bermain kucing-kucingan’ berusaha menyembunyikan hartanya dari kedua orangtua mereka agar kedua orangtua mereka itu tidak punya kesempatan meminta harta mereka.
Baca Selengkapnya

Sabtu, 11 Agustus 2012

Hidup Itu Indah



Dalam menghadapi kehidupan ini, kita sering merasa hidup begitu menekan dan sulit. Berbagai pekerjaan membuat kita melewatin hari demi hari dalam stres yang tak berkeputusan. Berbagai masalah membuat kita tak mampu lagi melihat hal-hal yang indah dan menarik dalam hidup. Bahkan kadangkala ada juga orang yang begitu putus asa sehingga mencoba mengakhiri hidupya sendiri. Kalaupun tidak seekstrim itu, banyak orang menjadi robot. Melewati hari demi hari dalam rutinitas. Tanpa gairah, tanpa semangat, tanpa harapan.

Dengan memiliki harapan manusia mempunyai alasan untuk tetap melanjutkan hidupnya. Harapan membuat manusia tidak pernah berhenti berjuang. Harapan membuat manusia merancangkan langkah-langkah yang tepat bagi kelangsungan hidupnya. Ini membuktikan bahwa hidup manusia itu berharga karena didalamnya terkandung nilai-nilai yang diperjuangkan untuk membuat manusia tetap hidup.

Hidup sangat berharga. Bahwa kita yang hidup tahu bahwa kita akan mati sementara orang mati tidak dapat berbuat apa-apa. Ini menunjukkan bahwa hidup menjadi berharga karna kita melakukan sesuatu; berbuat sesuatu seperti untuk menikmati segala hal dalam hidup ini dengan sukacita dan kita senatiasa hidup dalam kebenaran dan keadilan, dengan tetap menjaga hidup kerohanian kita.

Semua hal ini memberi penjelasan kepad kita, bahwa keindahan hidup tidak diukur dari panjang pendeknya umur, tidak juga diukur dari kaya miskinnya orang, tetapi dari bagaimana ia mengisi hidupnya.

Hidup menjadi berarti jika kita mengisinya dengan kerja dan usaha tentang hal-hal yang baik. Yang paling penting dari semua itu adalah meskipun hidup ini sia-sia, tetapi hidup ini adalah pemberian Tuhan. Maka selama kita hidup nikmatilah hidup kita dengan kerja, sukacita dan harapan. Hanya dengan demikian kita dapat menemukan keindahan hidup, pendek atau panjang umur kita. Kita dapat menikmati keindahan hidup, kaya atau miskin keadaan kita. Karena hidup adalah Anugerah.

Dengan memiliki harapan manusia mempunyai alasan untuk tetap melanjutkan hidupnya. Harapan membuat manusia tidak pernah berhenti berjuang. Harapan membuat manusia merancangkan langkah-langkah yang tepat bagi kelangsungan hidupnya. Ini membuktikan bahwa hidup manusia itu berharga karena di dalamnya terkandung nilai-nilai yang diperjuangkan untuk membuat manusia tetap hidup.

(submitted by Eric Erianto)
By. Motivasi_Net@yahoogroups.com
Baca Selengkapnya

Jumat, 06 Juli 2012

Apa arti kehidupan?



Gimana kita dapat menemukan tujuan kepuasan dalam hidup? banyak orang-orang yang menanyakan apa sich arti hidup sebenarnya. Apakah saya memiliki potensi untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan? Sering kita memandang ke belakang dan tidak mengerti mengapa kita merasa begitu HAMPA, walaupun kita telah berhasil mencapai apa yang kita impikan.

Kita hidup dalam masyarakat yang monoton dimana banyak orang mengejar Dunia dam Mimpi yang terpendam, bisa kita liat contohnya kesuksesan dalam bisnis atau pekerjaan yang menhasilkan banyak uang,seks, hiburan, ada pun yang berbuat baik kepada orang lain, masih banyak lainy. Saya mengenal seseorang teman yang bila dilihat dari luar kelihatannya hidupnya terbilang sukses. Akan tetapi herannya dia tetap merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Saya sulit untuk percaya bahwa dia tidak merasa puas dengan semua yang telah dia miliki.

Orang yang tidak mengetahui tujuan kita diciptakan, tak memiliki patokan yang jelas meniti hidup. Tak ada panduan atau panutan arah yang bisa dipertanggung jawabkan, hingga mungkin kita akan terseok dan tertatih di belantara kesesatan.

Hanya satu ’Panutan’ yang mungkin akan kita percaya untuk memandu jalan adalah hawa nafsu. Kita berbuat dan berjalan sesuai petunjuk nafsu. Apa yang diingini nafsu? itulah yang dilakukan. Kemana arah nafsu, kesitu pula kita akan berjalan. Padahal, nafsu cenderung berjalan miring dan berbelok, betapa besar potensi kita terjungkal ke jurang kesesatan.

Betapa tidak pantas ketika kita mulai menuntut Sang Pencipta? untuk melakukan apa yang kita inginkan. Betapa kecil dan terbatasnya pikiran kita jika mempertanyakan keadilannya. Hidup kita sendiri seperti rumput dipadang, sebentar tumbuh, kering, kemudian terbang ditiup angin. Singkat dan pasti akan berakhir.

Tuhan yang memberi dan Tuhan pula yang mengambil. Semua yang kita punya di dunia ini datang darinya. Kita datang telanjang ke dunia ini dan akan meninggalkannya dalam keadaan yang sama kelak suatu saat nanti. Dari tidak ada kita menjadi ada.

Tidak ada yang dapat menghindar dari akibat dosa yang kita perbuat yang telah menghancurkan bumi ciptaan Sang Halik. Mengapa harus ada kelahiran? Mengapa tersenyum untuk satu lagi jiwa yang lahir untuk merana? Bukankan kita harus menangis karena telah menarik satu lagi makhluk surga dari tempatnya yang indah untuk hidup bersama kita di bumi fana ini?

Sesungguhnya seorang bayi dilahirkan untuk menderita demikian seterusnya hingga dia dipanggil Sang pencipta. Itulah sebabnya, hal pertama dilakukan seorang bayi adalah menangis. Menangis karena tanpa kehendaknya sendiri dilahirkan. Menangisi hari-hari yang harus dia lewati sebelum menjadi tua, sakit, dan kembali ke asalnya. Apa yang bisa dibanggakan manusia dari hidupnya?

Kita tidak mengarang misi hidup kita, kita harus mencarinya? Ketika kita memahami pandangan ini, hidup akan menjadi sebuah perjalanan untuk menemukan, Sebuah petualangan untuk masuk ke dalam arti dan misi dari sebuah kehidupan yang kita jalani.

Inilah yang harus kita disadari:
1. Hidup memiliki tujuan, entah kita menyadarinya atau tidak?
2. Tuhan sedang bekerja di dalam tujuan hidup kita?
3. Tujuan hidup tidak selalu menjadi misteri, dan kita dapat menemukannya jika kita belajar untuk melihat hidup melalui ‘saringan’ yang dirancang untuk membantu kita ‘menghubungkan titik-titik’ dari misi hidup kita.
4. Penemuan tujuan hidup bukanlah proses linear, buku ini bak sebuah teka-teki silang. Di mulai dengan apa yang kita tahu, akan membantu kita menemukan petunjuk selanjutnya.
5. Tujuan hidup tidak statis dalam pengungkapannya dan cara bagaimana kita mengalaminya.
6. Proses menemukan tujuan hidup, bukan tentang menggabungkan satu set kata-kata dan kita menyebutnya (slogan) pernyataan misi hidup. Lebih penting punya misi hidup tanpa diucapkan, dari pada kita mengucapkan slogan tanpa benar-benar memiliki ‘jiwa’ dari misi itu.

Beberapa Petunjuk:
Kita memiliki beberapa petunjuk yang menunjukan misi hidup atau tujuan hidup. Dan inilah beberapa petunjuk itu:

1. Hasrat (Passion)
Hasrat tidak pernah kehilangan ‘seruannya,’ tidak masalah berapa besar uang yang kita keluarkan untuk itu. Hasrat dan gairah, membedakan orang dari penampilan luarnya. Orang yang memiliki hasrat akan berbeda dengan mereka yang terlibat di dalam pekerjaan atau aktivitas yang sama namun tanpa hasrat.

Giliran Anda:
      1. Apa yang membuat jantung Anda berdegup keras?
      2. Hal-hal apa yang membuat Anda merasa ‘berenergi’?
      3. Hal-hal apa yang menarik perhatianmu?

2. Bakat (Talent)
Bakat akan memberi petunjuk penting untuk misi hidup kita! Perhatikanlah bakat kita dengan sungguh-sungguh, dan itu akan membantu kita menemukan misi hidup kita! Keseimbangan adalah dongeng!! Manusia tidak seimbang, terlebih lagi jika hal itu bicara tentang talenta!
Giliran Anda:
      1. Kesuksesan apa yang kita raih akhir-akhir ini?
      2. Menurut diri sendiri, Anda cakap di dalam bidang apa?
      3. Menurut orang lain, Anda cakap di dalam bidang apa?

3. Kepribadian (Personality)
Kepribadian juga dapat memberi petunjuk penting untuk misi hidup kita!
Contoh:
Apakah Anda pemalu? Mungkin hal itu adalah petunjuk bahwa tujuan hidup kita berada di belakang panggung, bukan di dalam sorotan. Jika kita menikmati ketika membantu orang lain untuk sukses, maka mungkin misi hidup kita ada dalam keterlibatan kita sebagai pelatih atau pengajar.

4. Pengalaman (Experience)
Pengalaman juga merupakan petunjuk penting dalam pencarian misi hidup. Hidup bukanlah koleksi dari kejadian-kejadian acak, kesempatan yang kebetulan, atau kejadian yang saling tidak terhubung.

Kita ada di sini, karena Tuhan ingin kita ada di sini! Dia [Tuhan] ingin kita ada di sini sekarang. Kita juga tidak menentukan kita akan lahir dalam keluarga apa, etnis apa, atau kebudayaan apa. Apa yang kita lihat adalah campur tangan Tuhan yang kreatif dan pimpinan-Nya dalam hidup kita berdasarkan pada pengetahuan-Nya tentang apa yang menanti di depan kita.

Menakjubkan, bahwa kita tidak mengetahuinya ketika kita tidak memperhatikannya!!

Yang terakhir penyelesain untuk semua pembaca Yaitu RENUNGAN;

(ARTI HIDUP MENURUT ISLAM)

Agar kita tidak memahami arti hidup secara dangkal, kita harus kembali memahinya dari sumber atau rujukan yang bener, yaitu Al-Quran dan Hadits shahih. Tentu saja, jika kita menggalinya lebih dalam menurut Al-Quran dan Hadist akan menjadi pembahasan yang panjang. Yang saya akan tekankan disini ialah, kita jangan menyerahkan pemahaman dari sumber yang tidak jelas dan tidak pasti. pemahan yang salah bisa mengubah kehidupan kita, bahkan di kehidupan akhirat nanti.

Pada intinya, arti hidup dalam islam adalah ibadah.keberadaan kita di dunia ini tiada lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah. makna ibadah yang di maksud tentu saja pengertian ibadah yang benar, bukan berarti hanya shalat,puasa,zakat,dan haji saja, tetapi dalam setiap aspek kehidupan kita.

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melaikan supaya mereka menyembah-Ku"

(QS Adz Dzaariyaat:56)
Ibadah... inilah arti hidup sebenarnya...
Baca Selengkapnya

Rabu, 04 Juli 2012

Senyum adalah tangisku


Senyum adalah tangisku
Tangis adalah lukakku
Indah dunia tak terasa oleh derita
Luka hati slalu ada mengikutiku

Bersama kenangan yang ungkit luka di hati
Luka yang harusnya dapat terobati
Yang ku harap tiada pernah terjadi

Tuhan ku ingin seperti mereka
Tak ada air mata yang terjatuh lagi
Yang hancurkan semua hal indah
yang dulu pernah aku miliki
 
Semua ku serahkan kepadamu
Jalan yang terbaik pasti untukku
Ingin ku raih cahaya
ingin semua berbeda

Mungkin sejenak dapat aku lupakan
Atau menggoreskan kaca di lenganku
Apapun kan ku lakukan, ku ingin lupakan
Mungkin ini yang terbaik dalam hidupku

Tapi semua bukanlah yang aku mau
Namun bila ku mulai sadar
Perihnya luka ini semakin dalam ku rasakan
Disaat ku telah mengerti
betapa indah dicintai

Tuhan ku ingin seperti mereka
Tak ada air mata yang terjatuh lagi
Semua ku serahkan kepadamu
Jalan yang terbaik pasti untukku
Baca Selengkapnya

Sabtu, 11 Februari 2012

Siapa Pun Berhak Mendapatkan kebahagian

Orang yang paling bahagia adalah orang yang tidak selalu membutuhkan hal yang baik dalam hidupnya melainkan bagaimana membuat semua hal menjadi yang terbaik untuk hidupnya. Kebahagian dalam hidup kita bukan terletak dari kesenangan yang kita dapatkan melainkan seberapa besar senangnya orang lain terhadap kita.

Jangan pernah kita menangisi siapapun yang tidak mau menangisi hidup kita, Menagislah terhadap orang yang mau mengerti dan peduli tentang kita dan dia benar-benar berhak mendapatkan air mata kita. Yang pasti jika kita tidak menerima maka kita tidak mendapatkan. Hidup di dunia ini memang rumit, dan hidup di dunia ini tidak akan pernah mudah kita jalani sebagai manusia. (menurut saya)

Saya coba kasih penyegaran roahani dari M. Agus Syafii yang judulnya ya allah, kuatkanlah kami. mudah-mudahan bermanfaat untuk yang membaca amien. nich klik disini yah kalo mau liat.
Baca Selengkapnya

Kamis, 09 Februari 2012

Penghianat Lirik lagu: Captain Jack


Hidupku Rusak Pikiran teracak
Tak satupun darikku disisakan
Hanya datang dan pergi semuanya palsu
Apalagi yg kan kau ambil dariku
*
Telah kuberikan semua yg ku punya..
Telah habis waktuku untuk mereka

Reff :

Pengkhianat tak pernah perduli
Pengkhianat kan selalu kembali dan kembali

Memohon, berjanji bahwa mereka akan berubah
Pengkhianat slalu ada disini
Bersembunyi diantara percaya dan simpati
Dan mreka kan pergi tanpa ada rasa bersalah

Otakku beku, logikaku mati
Mreka trus bisa mengammbilku kembali
Di tempat yang sama, kejadian serupa
Dimana sejarah buruk terulang lagi

Lirik lagu: Captain Jack
Baca Selengkapnya

Selasa, 07 Februari 2012

Novel Surat kecil untuk tuhan


Tuhan ..
Andai aku bisa kembali..
Aku tidak ingin ada tangisan di dunia ini.
Tuhan ..
Andai aku bisa kembali
Aku tidak ingin ada hal yang sama terjadi padaku ,terjadi pada
siapapun.
Tuhan ..
Bolehkah aku menulis surat kecil untuk-mu
Tuhan ..
Bolehkah aku memohon satu hak kecil untuk-mu
Biarkan aku tetap melihat bulan dan bintang
Tuhan ..
Bolehkah aku..
Hidup untuk waktu yang lama
Tuhan..
Bolehkan aku..
Tersenyum untuk waktu yang lebih lama
Agar tidak ada lagi air mata dalam hidupku..
Tuhan..
Bolehkan aku menjadi dewasa seperti burung yang terbang
sebebasnya dilangit

Tuhan..
Bolehkah engkau tidak pisahkan aku dari ayah dan temanteman
yang aku sayangi.
Tuhan..
Surat kecilku ini
Adalah permintaan terakhirku.
Andai aku bisa kembali..
In memorial for
Gita Sesa Wanda Cantika.
19/06/91-25/12/06

BAGIAN 1

ISTANA DALAM DUNIA KECILKU

Suara kicau burung di pagi hari, terdengar menembus langit-langit kamarku. Aku masih terbaring malas untuk bangun, Namun sepertinya bila aku terus tertidur Matahari akan marah padaku, karena sinarnya terus berbayang bayang di wajahku, dan aku masih saja menutup mataku. Cahaya Matahari pagi juga mulai menyentuh seluruh isi ruangan di kamarku yang cukup besar. Akhirnya aku harus mengalah pada sinar Matahari, dan aku harus bangun. Ini kan hari dimana aku harus mulai melakukan kegiatan di Sekolah.

Uohhhh.... teriakku sambil menguap.

Hai sobat, kenalkan namaku Gita Sesa Wanda Cantika.

Terlalu panjang ya.. ok! Biar gampang sebut saja namaku Keke. Aku anak ke-tiga dari tiga saudara. Aku mempunyai dua Kakak laki-laki, namanya juga dipersingkat saja. Panggil mereka Chika yang tampan dan Kiki yang manis hehehe, jadi aku adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluargaku. Chika adalah Kakak tertua aku, sekarang kuliah sambil bekerja disalah satu Free Magazine di Jakarta tentu aku bangga padanya karena ia dapat membagi waktu antara kuliah dan bekerja tanpa merepotkan orangtua aku.

Sedangkan Kiki, Kakakku ke-dua adalah orang yang paling aku andalkan dalam segala hal. Ia pandai memasak, menemaniku dan mengajarkan aku dalam segala hal. Mmm...
sebenarnya ia anak yang pandai, tidak heran ia lah yang menjadi guru private-ku. Terkadang aku harus berebut dengan temannya bila ingin menjadikan dia guru private-ku.

Keluarga kami keluarga yang bahagia, walau Ibu dan Ayah telah bercerai namun hubungan masih terjalin dengan baik. Aku dan kedua Kakakku tinggal bersama Ayah. Ops.. tak lupa kukenalkan pahlawan dalam keluarga kami.

Dia ini adalah raja dari istana kami. Ayahku, teman sekaligus pacarku.. lucu ya..eits jangan salah paham ya! Habis Ayah, walau sudah berumur.... tampangnya boleh dibilang ga jauh dari Tao ming se, bintang F-4 asal Taiwan itu loh..

Hm.. di hari ini! saatnya Aku ceritakan tentang bagian dari istana kami. Sejak kecil aku mempunyai hobby Menyanyi dan Modeling. Ga percaya? Silakan saja lihat koleksi kamarku. Bukan sombong ya hehe. Tapi itu waktu aku masih kecil, waktu aku masih lucu-lucunya dan gemesin. Sekarang aku sibuk dengan kegiatan di Sekolah saja kok! Masih terbayang juga olehku, ketika aku beberapa kali menjadi juara model di beberapa kejuaraan dan aku juga sempat membuat album cilik. Tapi rasanya itu bagian dari masa kecil yang indah. Walau terkadang aku masih merindukan masa masa itu. Harapanku sih suatu saat aku punya album lagi.

Karena beberapa masalah dalam keluarga kami, khususnya ketika perceraian orang tuaku. Aku dan kedua Kakakku mulai malas untuk Sekolah, dan itu merupakan salah satu bentuk protes kami terhadap perceraian orangtua kami. Ayah selalu membujuk kami untuk Sekolah, tetapi aku dan Kakakku merasa belum siap menerima semuanya, perceraian itu seolah tamparan berat dalam hidup kami dan sampai suatu ketika Ayah mendapatkan tawaran pekerjaan di sebuah yayasan pendidikan. Kami mulai berpikir untuk Sekolah.

Sehingga akhirnya setelah berdiskusi dan berulangkali pula Ayah membujuk kami untuk Sekolah dan akhirnya dengan Nawaitu dan berdoa’a Bismillahi tawakaltu ’alallah kami memutuskan untuk kembali Sekolah. Ternyata pilihan ini tidak salah.. Aku sangat bahagia dapat menjadi bagian di Yayasan Pondok Pesantren Al-Kamal sebagai siswi tersebut.

Oh ya.. ketika aku memutuskan untuk ikut dengan Ayah aku duduk dibangku kelas 6 SD. Walaupun aku baru pindah teman-teman dan Guru-Guruku sangat ramah kepadaku, sebenarnya ketika pertama kali aku pindah Sekolah dibenakku selalu terpikir apakah aku bisa mengikuti pelajaran sedangkan dalam hitungan bulan aku harus mengikuti ujian akhir Sekolah. Soalnya sewaktu vakum dari Sekolah aku kan kerjanya Cuma baca komik dan nonton TV.

Aku pun tidak menyerah begitu saja, aku belajar dengan giat dan melupakan sejenak tentang gambar gambar kartun dibenakku, mengantinnya dengan buku buku pelajaran Sekolah. Aku juga meminta Kiki untuk mengajarkan hal yang aku tidak pahami hingga aku mengerti. Dan ternyata usai ujian berakhir, saat pembagian rapot di kelas dengan wajah tersenyum Wali
kelasku berkata!....

“ Selamat ya Pak, anak Bapak masuk rangking 10 besar dikelas.”

Aku hanya bengong menatap wajah Ayah seolah tak percaya dan ke-khawatiranku terbayar sudah karena Aku mendapatkan rangking, walaupun baru beberapa bulan aku
Sekolah di Al-Kamal.

Nah.... ada lagi yang membuat aku merasa betah di Al- Kamal yaitu aku mempunyai banyak teman, tidak hanya teman sekelasku saja, akupun mempunyai banyak Kakak kelasku yang sudah ku anggap sebagai saudaraku sendiri yang duduk dibangku SMP dan SMA dan mereka semua baik padaku, sebut saja kak Keisya, kak Juju, kak Yasmin, kak Ayu, kak Deasy, kak Dewi, kak Rara, kak Dian, kak Putri, kak Devi, kak Dina S.

“ Pokoknya masih banyak lagi yang tidak bisa aku sebutkan banyakkan Kakakku?” hehehe.

Mereka semua aku kenal karena aku sering nimbrung di samping mereka buat berbagi cerita, mereka tidak melihatku sebagai adik kelas yang masih berpakaian merah putih, tapi mereka menganggap aku adalah adik mereka sekaligus teman untuk bicara.

Mereka sering memanggilku dengan sebutan si Cantik he...he.. ntah apa karena di nama panjangku tergantung Cantika atau emang benar ya.. eits... kata Ayah jangan terlalu percaya diri ntar bisa kecebur kedalam selokan got . Aku sering loh diajak Hang Out bareng dengan mereka, di Mal atau tempat-tempat yang cozy and cool.

Tentunya aku selalu ditemani oleh kedua Kakakku karena Kakak-Kakak angkatku selain dekat dengan aku mereka dekat pula dengan Kakak Chika dan Kakak Kiki dan Ayah tercinta juga ga mau ketinggalan bergabung sih. Opss.. jangan kelupaaan ada satu lagi nih, karyawan Ayah namanya Pak Iyus atau Kupanggi Pak Yus. Dia orangnya lucu, bersahabat, sangat loyal terhadap keluargaku, dan ia sudah aku anggap sebagai keluargaku sendiri bahkan dia seperti Ayah keduaku.

Wah...seru dan ramai yah ...!!. Bahkan aku juga sering diajarkan menari oleh kak Deasy, dia jago menari, dan juga ia sebagai Ketua OSIS di SMA Al-Kamal loh.... Dan biasanya tariantarian yang diajarkan kak Deasy selalu ditampilkan dalam berbagai acara diSekolahku, tentunya aku ikut menari karena sejak kecil aku memang suka menari. Mmm... Aku senang loh
padahal aku terbilang anak baru tetapi aku dilibatkan dalam berbagai Acara. Setelah aku lulus dari SD Al-Kamal, Ayah memberikan aku kebebasan penuh untuk memilih Sekolah SMP yang aku idamkan.

Ya, memang Ayah dikenal sebagai orang yang demokrasi yang bertanggung jawab, aku bangga padanya. Setelah Ayah berkata seperti itu padaku, tentu aku langsung menjawab SMP AL-Kamal, banyak temanku bertanya kenapa aku memilih Sekolah Al-Kamal yang Swasta sedangkan hasil NEM atau nilai ujianku terbilang cukup tinggi dan diterima oleh salah satu SMP
negeri Unggulan di Jakarta Barat, tetapi aku tetap memilih Sekolah Al-Kamal. Aku hanya tersenyum kecil pada mereka lalu memeluk sahabat-sahabatku.

Alasanku memilih Al-Kamal tempat aku menuntut ilmu karena aku ingin mendalamin ajaran agama Islam lebih dalam, dan aku ingin sekali lancar membaca Al-Qur’an, karena Ayahku selalu mengingatkan kepadaku. Sebuah ayat yang Ayah ambil dari sebuah Hadist yaitu

“ Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan yang mengajarkannya. “
Didalam pikiranku selalu teringat nasehat Ayah dan aku ingin membuat orangtuaku bangga bukankah disebutkan dalam sebuah hadist.
“ Tiada kebanggaan orang tua diakhirat kecuali anakyang bisa membaca Al-Qur’an”.
Dan Al-hamdulillah hanya dalam hitungan bulan aku dapat membaca Al-Qur’an. itu karena peran serta banyak orang diantranya guru Agamaku , aku bersyukur sebagai seorang anak aku dapat menjalankan semuanya dengan penuh kebahagiaan, dan terkadang aku berbagi bersama sahabat-sahabatku tentang apa yang aku bisa.
Baca Selengkapnya

Surat kecil Untuk tuhan


Senyum adalah tangisku,
Tangis adalah lukaku...
Indah dunia tak terasa oleh derita
Luka hati slalu ada mengikutiku...

##  Ingin ku raih cahaya

Ingin semua berbeda
Mungkin ini yang terbaik dalam hidupku
Tapi semua bukanlah yang aku mau oh.......

reff:

 

Tuhan ku ingin hidup sempurna
Tak ada air mata yang terjatuh lagi
Semua ku serahkan kepada-Mu
Jalan yang terbaik pasti untukku.........

Tuhan ku ingin hidup sempurna

Tak ada air mata ohhh........

Tuhan ku ingin hidup sempurna

Tak ada air mata yang terjatuh lagi
Semua ku serahkan kepada-Mu
Jalan yang terbaik pasti untuk aku.....

Tuhan andaiku bisa memohon
Tak ada lagi luka tak ada derita
Tapi aku hanya manusia yang hanya meminta
Kau menentukannya.......

Lirik lagu: Rename Ost_surat kecil untuk tuhan
Baca Selengkapnya

Postcard untuk tuhan


Mohon maafkan aku
Yg kulakukan hanya mengeluh

Hanya itu yg kubisa.. itu yang terasa untuk sesaat ini
Mungkin belum kucoba berusaha sekuat tenaga
Dan belum cukup bersabar

Berjiwa besar sekian tahun ini
Aku tlah coba sebaik dan sejujur yang kubisa
Namun orang-orang curang selalu keluar sebagai pemenang

Salahkah aku bertanya ?
Salahkan jika berkata ?

Tolonglah aku mulai benci hidupku
Tolonglah aku muak dengan duniaku..

Dan bukan hanya aku yang merasa hidupnya tak adil
Semua semakin berat
Kami sekarat tanpa terhenti dan kami semakin terpuruk

Sulit tuk bedakan dosa dan bukan
Saat semua yang dilakukan hanya untuk bertahan hidup
Aku ingin menolong siapapun yang terjatuh… siapapun mereka….

Namun bahkan ku tak mampu menyelematkan diriku sendiri
Tolonglah aku mulai benci hidupku
Tolonglah aku muak dengan duniaku

Dan semua pertanyaan tak terjawab
Dan semua hal busuk yang telah kulihat
Tuhan jawablah aku… Tuhan..
God please help me… I’m fallin’

Lirik lagu : Captain jack
Baca Selengkapnya

Sabtu, 04 Februari 2012

Cerita cinta sejati nyata sepanjang masa yang mengharukan


Selama ini kisah cinta yang menyedihkan sangat banyak sekali, entah mengapa kok sering sekali kita membaca cerita cinta yang mempunyai ending atau akhir cerita menyedihkan dan lebih anehnya lagi kebanyakan cerita tersebut yang di ambil dari sebuah kisah nyata.

Banyak sekali cerita cinta nyata yang di buat film dan hasilnya sangat postif sekali respon dari para pecinta movie, dan tidak sedikit juga yang mengadopsi dari buku-buku kisah cinta, Mungkin dari indonesia sendiri yang banyak sering kita lihat di layar tv kita yaitu FTV.

Mungkin kita bisa ambil contoh film-film cinta yang mengharukan dan kisah nyata:

1.Titanic
2. Romeo and Juliet

3. Mantan Presiden RI H.B.J Habibie- Alm Ainun Habiebie
4. Silahkan recomendasasinya........ untuk melengkapi
























Baca Selengkapnya

Kisah cinta seorang pria yang menyedihkan


Ada seseorang wanita buta dia cantik dan elok. Semua orang membenci dia, kecuali kekasihnya. Wanita itu selalu berkata, “Saya akan menikahimu saat saya bisa melihat. ” Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan mata kepada wanita itu. Akhirnya wanita itu dapat melihat. Dengan segera, dia pergi menemui kekasihnya. Tetapi, ketika dia melihat kekasihnya, dia merasa sungguh terkejut karena kekasihnya juga buta. Kekasihnya bertanya, “Sudikah kamu menikah denganku sekarang?” Tanpa sebuah alasan, wanita itu menolak. Kekasihnya pun tersenyum dan pergi sambil berkata. “Tolong jaga mata saya baik-baik…
Baca Selengkapnya

Cinta Sepotong Mimpi


Penulis : Hara Hope.


Dapatkah seseorang mencinta hanya karena sepotong mimpi? Mustahil. Namun, adikku semata wayang mengalaminya – setidaknya itu yang diakuinya.


Gadis yang dicintainya adalah Lala, adik sepupunya sendiri. Wajar, bukan? Bahkan, menjadi halal saat kedua orang tuaku kemudian berpikir untuk meminangnya.


Semua berawal dari penuturan Jamal. Ia bilang, ia memimpikan Lala sebagai gadis yang diperkenalkan Ibu kepadanya sebagai calon istrinya.


“Kami sudah saling mengenal, Bu,” kata Jamal dalam mimpi itu dengan malu-malu. Gadis itu pun mengangguk dengan senyum malu-malu pula.

 

Sebenarnya Jamal tidak terlalu meyakini gadis itu adalah Lala. Wajahnya samar terlihat. Namun, Jamal merasakan aura gadis itu cukuplah ia kenal. Hebatnya, ini diperkuat oleh ayah kami. Di malam yang sama, beliau bermimpi tentang Jamal yang duduk di kursi pelaminan bersama Lala! Apakah ini pertanda? Entah. Hanya saja, sejak itu aku merasakan pandangan Jamal terhadap Lala berubah.

Mereka sebenarnya teman bermain di waktu kecil, namun tak pernah bertemu lagi sejak remaja. Keluarga Lala tinggal jauh di Surabaya, sementara kami di Jakarta. Kami jarang berkumpul, bahkan saat lebaran, sehingga kenangan yang dimiliki Jamal tentang Lala adalah kenangan di masa kecil dulu sebagai abang yang kasih kepada adiknya. Kasih dimana sama sekali tak terpikirkan untuk memandang Lala sebagai gadis yang pantas dicintai, bahkan halal dinikahi. Namun, mimpi itu mampu menyulap semuanya menjadi…cinta (?).


Mari katakan aku terlalu cepat menyimpulkan sebagai cinta. Barangkali saja itu hanya pelangi yang tak kunjung sirna mengusik relung hati adikku. Pelangi yang mampu merubahnya menjadi sok melankolis hingga membuat kami sekeluarga khawatir melihat ia kerap termenung menatap kejauhan, untuk kemudian mendesah perlahan.


“Mungkin kau harus menemuinya di Surabaya,” kata Ibu.


”Rasanya tak usah, Bu. Masak hanya karena bunga tidur aku menemuinya,” jawab Jamal.


”Barangkali saja itu pertanda.”

 

”Bahwa Lala jodoh saya?”

”Bukan. Bahwa sudah lama kau tak mengunjungi mereka untuk bersilaturahmi. Biar nanti Mbakmu dan suaminya yang menemanimu kesana.”


Jamal tertegun sejenak untuk kemudian mengangguk.


Wah, pintar sekali Ibu membujuk. Padahal tanpa sepengetahuan adikku yang pendiam itu, Ibu menyerahi kami tugas untuk ”meminang” Lala. Ibu betul-betul yakin mimpi itu sebagai pertanda sehingga memintaku menanyakan kepada Lala tentang kemungkinan kesediaannya dipersunting Jamal.

 

”Kenapa tidak minta langsung saja pada Paklik? Biar mereka dijodohkan saja,” kataku waktu itu.
”Ah, adikmu itu takkan mau.”

”Tapi…”


”Sudahlah. Ibu tahu Jamal belum terlalu dewasa. Kuliah saja belum selesai. Tapi setidaknya ia memiliki penghasilan dari usaha sambilannya berdagang, ‘kan?”


“Bukan itu maksudku. Apa Ibu yakin Jamal mau dengan Lala? Barangkali saja mimpinya hanya romantisme sesaat.”


Ibu tercenung. Aku yakin Ibu belum memastikan ini. Yang beliau tahu hanya Jamal yang bertingkah aneh. Itu saja. Selebihnya ia perkirakan sendiri. Sepertinya justru Ibulah yang ngebet ingin meminang Lala.


”Kupercayakan semua itu padamu.”


Walah! Berarti tugasku berlipat-lipat! Selain memastikan kesediaan Lala, aku pun harus memastikan perasaan adikku sendiri.


Ia diam. Sudah kuduga reaksinya begitu jika kutanyakan tentang kemungkinan perjodohannya dengan Lala.


“Kamu mencintainya?” Aku mengganti pertanyaan. Kali ini Jamal malah terkekeh.


”Mungkin… Entahlah. Rasanya tak wajar.”


Tentu saja tak wajar! Bagiku, mencinta karena sepotong mimpi hanya omong kosong. Lagi pula Jamal tak tahu seperti apa wajah dan kepribadian Lala dewasa ini. Aku pun tak tahu.


“Santai saja, Mal. Tak usah dipikirkan. Yang penting kita tiba dulu di sana,” kata Bang Rohim, suamiku.


Setiba di Surabaya, kami disambut keluarga Lala hangat.

”Wah, iki Jamal tho? Oala, wis gedhe yo?!” ucap Bulik.

Jamal hanya tersenyum. Apalagi saat pipi gendutnya dijawil Bulik seperti saat ia kanak-kanak dulu.

”Mana Lala, Bulik?” tanyaku saat tak mendapati anak semata wayangnya itu.

”Ada di dapur. Sedang bikin wedhang.”

 

Aku segera ke dapur. Aku sungguh penasaran seperti apa Lala sekarang. Kulihat seorang gadis di sana. Subhanalah, cantiknya! Ia mencium tanganku. Hmm, santun pula. Cukup pantas untuk Jamal. Tapi, aku harus menahan diri. Kata Bang Rohim, butuh pendekatan persuasif untuk menjalankan misi ini. Aku tak yakin aku bisa sehingga menyerahkan sepenuhnya skenario kepadanya.

Tak banyak yang dilakukan Bang Rohim selain meminta Lala menjadi guide setiap kami bertiga pergi ke pusat kota. Ia melarangku membicarakan soal perjodohan, pernikahan, pinangan atau apapun istilahnya kepada Lala. Katanya, kendati kami keluarga dekat, sudah lama kami tidak saling bersua. Bisa saja Lala memandang kami sebagai ”orang asing”. Upaya melancong bersama ini demi untuk mengakrabkan kembali Jamal, Lala dan aku. Kiranya ini dapat memudahkanku saat mengutarakan maksud kedatangan kami sesungguhnya nanti.


Malam ini saat dimana aku diperbolehkan suamiku mengungkapkan semuanya kepada Lala. Seharusnya memang begitu. Tapi Jamal mendahuluiku. Tak kusangka ia serius dengan perasaannya. Ia utarakan semuanya. Tentang mimpinya, tentang jatuh cinta, bahkan tentang pinangan.


“Mungkin Dik Lala menganggap ini konyol. Abang juga merasa begitu. Tapi, setidaknya sekarang Abang yakin dengan perasaan Abang. Jadi, mau tidak kalau Lala Abang lamar?”

 

Bukan manusia kalau Lala tidak kaget ditembak seperti itu. Ia tampak galau. Seperti aku dulu. Sayang Lala tak merespon seperti aku merespon pinangan Bang Rohim dulu.

“Maaf, Mas. Aku terlanjur menganggapmu sebagai kakak. Rasanya sulit untuk merubahnya.”


Berakhirlah. Sampai di sini saja perjuangan kami di Surabaya. Jamal tersenyum mengerti, namun kuyakini hatinya kecewa. Cintanya yang magis tak berakhir manis. Kami pulang ke Jakarta dengan penolakan.


Sejak hari itu, Jamal tak terlihat lagi melankolis. Ia kembali sibuk dalam aktivitasnya. Adikku itu benar-benar hebat. Kendati patah hati, ia tak mau larut dalam perasaannya. Bahkan, belakangan aku tahu ia belum menyerah. Setidaknya penolakan itu berhasil mengakrabkan kembali Jamal dengan Lala. Mereka berdua kerap berkirim SMS sekedar menanyakan kabar ataupun saling bercerita. Jamal betul-betul memandang ini sebagai peluang untuk mengubah pandangan Lala terhadapnya.


Waktu kian berganti hingga masa dimana Jamal mengutarakan lagi keinginannya itu. Sayang ditolak lagi. Begitu berulang hingga tiga kali.


Ayah dan Ibu prihatin melihatnya. Mereka tak bisa berbuat banyak. Keinginan mereka untuk menjodohkan saja keduanya Jamal tolak.


”Syarat orang yang menjadi calon istriku, haruslah tulus ikhlas menjadi pendampingku. Atas kemauannya sendiri, bukan pihak lain!” Begitu alasannya selalu.


Terserahlah apa katanya. Tapi ini sudah menginjak tahun kelima Jamal memelihara cinta tak kesampaian ini. Usianya kian mendekati kepala tiga. Cukup mengherankan ia tetap memeliharanya terus. Rasanya tak layak cinta itu dipelihara terus. Ia harus diberangus. Lala bukanlah gadis terakhir yang hidup di dunia. Untuk itu Ibu, Ayah dan aku kongkalikong untuk membunuh cinta Jamal. Sudah saatnya ia mempertimbangkan gadis-gadis lain. Kebetulan ada yang mau. Pak Haji Abdullah sejak lama ingin bermenantukan Jamal dan menyandingkannya dengan Azisa, anak sulungnya. Kami susun perjodohan tanpa sepengetahuan Jamal. Lantas, kami sekeluarga berusaha ”menghasut” Jamal untuk memperhitungkan keberadaan Azisa, temannya sejak SMU itu.


Alhamdulillah berhasil. Hati Jamal mulai terbuka untuk Azisa sehingga saat Pak Haji Abdullah meminta dirinya menjadi menantu, ia tak punya lagi pilihan selain mengiyakan.


Kesediaan Jamal memang sudah didapat, namun anehnya ia tak kunjung juga menentukan tanggal pernikahan. Kali ini naluriku sebagai kakak turut bermain. Rasanya Jamal tengah menghadapi masalah yang tak dapat dibaginya kepada siapapun, termasuk Azisa. Saatnya aku menjadi kakak yang baik untuknya.


”Entahlah, Mbak. Rasanya aku tak siap untuk menikah.”


Mataku terbelalak saat Jamal mengutarakan penyebabnya.


”Apa pasal?” tanyaku agak jeri. Aku tak berani membayangkan jika Jamal tiba-tiba membatalkan perjodohan. Keluarga kami bisa menanggung malu!


”Rasanya Azisa bukan jodohku.”


Aku semakin terkesiap. Aku mulai menduga-duga arah pembicaraannya.


”Lala-kah?” tanyaku. Jamal mengangguk pelan, namun pasti.


”Sebenarnya mimpi tempo hari itu tak sekonyong datang. Aku memintanya kepada Tuhan. Aku meminta Dia memberikan petunjuk tentang jodohku kelak. Dan yang muncul ternyata Lala!”


Aku kembali terdiam. Aku benar-benar payah. Sudah setua ini, masih saja tak dapat menjadi kakak yang baik buat Jamal. Aku bingung harus menanggapi bagaimana.


”Maafkan jika selama ini Mbak tak bisa menjadi kakak yang baik, Mal. Bahkan untuk masalahmu satu ini pun Mbak tak bisa menjawab. Hanya saja, kita tak akan pernah benar-benar tahu apa yang kita yakini benar itu sebagai kebenaran, Mal. Termasuk mimpimu. Mbak tidak tahu lagi harus menganggapnya omong kosong ataukah benar-benar pertanda. Kalaulah mimpi itu pertanda, pasti banyak sekali maknanya.”


”Kamu memaknainya sebagai cinta dan jodoh, Ibu memaknainya sebagai silaturahmi dan Ayah memaknainya sebagai tipikal istri ideal bagimu. Bukankah Azisa pun tak berbeda jauh dengan Lala? Mimpi itu nisbi, Mal.”


Jamal hanya mendesah pelan sambil memandang kejauhan. Mukanya masam. Mungkin tak menghendaki aku bersikap tak mendukungnya.


”Mungkin,” lanjutku, ”ini hanya masalah cinta saja. Mungkin hatimu masih hidup dalam bayangan Lala dan tak pernah sekali pun memberi kesempatan untuk dimasuki Azisa. Kau hidup di kehidupan nyata, Mal. Sampai kapan akan menjadi pemimpi?!”


Aku tersentak oleh ucapanku sendiri. Tak kuduga akan mengucapkan ini. Bukan apa-apa. Beberapa waktu lalu kami mendengar kabar Lala menerima pinangan seseorang. Kendati menyerah, aku yakin Jamal masih memiliki cinta untuk Lala. Ia pasti sakit. Aku betul-betul kakak yang tak peka. Aku menyesal. Aku peluk Jamal, menangis sesal.


Jamal turut menangis. Isaknya berenergi kekesalan, kekecewaan, kesepian, keputus-asa-an, bahkan kesepian. Aku terenyuh. Betapa ia menderita selama ini.


“Besok kita batalkan saja perjodohan dengan Azisa, Mal. Itu lebih baik ketimbang kau tak ikhlas menjalaninya nanti. Itu katamu tentang pernikahan, ‘kan? Kita bicarakan dulu dengan Ayah dan Ibu.”


Kupikir ini yang terbaik. Tak bijak rasanya tetap berkeras melangsungkan perjodohan di saat Jamal rapuh begini. Di saat Jamal terluka dan bimbang pada perasaannya. Biarlah keluarga kami menanggung malu bersama.


“Tidak. Kita teruskan saja. Aku ikhlas menjalani sisa hidupku bersama Azisa. Mungkin aku hanya membutuhkan sedikit menangis saja. Aku pergi dulu ke rumah Pak Haji untuk membicarakan ini. Assalamu’alaikum.”


Kutatap kepergian Jamal dengan perasaan tak tentu. Kalau diingat semua ini terjadi karena mimpi. Ya, Allah apakah benar mimpi itu pertanda-Mu? Jikalau benar kenapa sulit sekali terrealisasi? Jika pun tidak benar kenapa banyak orang mempercayai?


Aku terpekur. Maafkan aku adikku. Aku hanyalah insan, yang tak mampu menerjemahkan segala misteri-Nya, bahkan yang tersurat sekalipun. Aku hanya berusaha. Dia tetap yang menentukan. Maafkan aku.


* Juara Harapan IV Lomba Menulis Cerpen Ummi 2004.

Sumber : Majalah Ummi, No. 12/XVI April 2005/1426 H
Baca Selengkapnya

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana


Penulis : Inayati

Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik.

Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”

Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.

Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.

Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.

Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.

Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.

Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.

”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.

”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku.

Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.

Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.

Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.

”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.

Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.

Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa

Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.

”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.

Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?

Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?

Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.

Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.

Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.

Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Lewat kata yang tak sempat disampaikan
Awan kepada air yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu.
For vieny, welcome to your husband’s heart.

*dikutip dari Aku ingin mencintaimu dengan sederhana karya Sapardi Djoko Damono.
Sumber : Majalah Ummi, edisi 12/XIII/2002
Baca Selengkapnya